Selasa, 24 April 2012
cinta yang tak bertepi
Cinta
itu bagai samudra yang luas tak bertepi, yang rela menerima & memaafkan
apapun yang terjadi pada pasangan. Menerima kelebihan dan kekurangannya. Itulah
cinta seorang ibu yang menerima telpon dari seorang perempuan dengan mengatakan
bahwa dirinya tidak lagi berhak atas suaminya. Setelah merebut suaminya bahkan
menteror dan menghancurkan hatinya. Kehancuran hatinya justru bertekad untuk
mempertahankan rumah tangga, suami dan anak-anaknya.
Sebagai seorang ibu dan istri seolah mendapatkan kekuatan yang begitu besar
untuk tetap menjaga dan merawat anak-anaknya. Meski hatinya pilu dan
tercabik-cabik, ia tak ingin orang tuanya tahu apa yang sedang terjadi di dalam
rumah tangganya. Ditengah kesibukan mencari nafkah dengan bekerja keras demi
keberlangsungan hidup, ditengah kesendirian dan perjuangan membesar
anak-anaknya tidak membuat dirinya menjauh dari Allah malah semakin mendekat
diri kepada Allah memohon agar mendapatkan kekuatan, kesabaran dan
pertolonganNya
air mata untuk ayah
'Ayah,
lihatlah air mataku. Air mata anakmu yang selalu mencintaimu. Ayah selalu
bilang sayang padaku tetapi ayah tidak menjaga kesehatan, membuat ayah menjadi
sakit, kenapa yah? Aku juga mencintaimu, Aku tidak ingin ayah pergi. Jika aku
menangis, siapa yang akan mengusap air mataku? Jika aku kangen, siapa yang
memelukku? Ayah tidak pernah menjawab setiap kali aku bertanya, ayah hanya
tersenyum. Hatiku perih, ayah. Semua kenangan itu, senyuman itu selalu membuat
berlinang air mataku, tidak ada seorangpun yang dapat menghentikannya , karena
aku rindu padamu, Ayah... Air mata ini untuk ayah
ibu yang kuat
Ada seorang ibu separuh baya menjelang diusia senja, dari wajahnya terlihat guratan yang gigih, hati yang berserah. Walau sepanjang hidupnya dipenuhi dengan penderitaan. Dengan penuh kesetiaan menjaga anak-anak dan suaminya. Namun kepahitan hidup yang selalu didapatkannya. Suaminya lupa diri ketika kariernya menanjak, meninggalkan dirinya dan anak-anaknya. Bergantung masa depan hidupnya pada anaknya yang sulung malah membuat hatinya kecewa, beranjak dewasa pergi meninggalkan dirinya. Satu persatu anaknya pergi dengan kehidupannya masing-masing. Hingga masa menjelang usia senja beliau hidup seorang diri dipinggiran ibukota
Kamis, 19 April 2012
RANGKUMAN TEORI KEPEMIMPINAN
MODEL KONTIJENSI KEPEMIMPINAN
Kepemimpian adalah mempengaruhi orang lain agar ikut serta dalam mencapai tujuan umum (Harold Koontz)
Kepemimpian adalah mempengaruhi orang lain agar ikut serta dalam mencapai tujuan umum (Harold Koontz)
model kepemimpinan situasional berasumsi bahwa situasi yang berbeda membutuhkan type kepemimpinan yang berbeda, maka model kepemimpinan kontingensi memfokuskan perhatian yang lebih luas, yakni pada aspek-aspek keterkaitan antara kondisi / variable situasional dengan watak atau tingkah laku dan kriteria kinerja pemimpin
Konsep kepemimpinan dapat dilihat dari dua kubu, yaitu Kubu Determinisme yang menganggap bahwa pemimpin dilahirkan (Takdir), dan kubu Non Determinisme yang menganggap bahwa pemimpin merupakan suatu proses (dapat dipelajari).
Berbagai penelitian tentang kepemimpinan telah melahirkan berbagai Pendekatan dalam studi kepemimpinan, seperti : pendekatan kesifatan, perilaku dan situasional.
- Pendekatan kesifatan, memandang kepemimpinan sebagai suatu kombinasi sifat-sifat (traits) yang tampak pada seseorang.
- Pendekatan perilaku, bermaksud mengidentifikasi perilaku-perilaku (behaviors) pribadi yang berhubungan dengan kepemimpinan efektif.
Kedua pendekatan ini (sifat dan perilaku) mempunyai anggapan bahwa seorng individu yang memiliki sifat-sifat tertentu atau memperagakan perilaku-perilaku tertentu akan muncul sebagai pemimpin dalam situasi kelompok apapun dimana dia berada.
Konsep kepemimpinan dapat dilihat dari dua kubu, yaitu Kubu Determinisme yang menganggap bahwa pemimpin dilahirkan (Takdir), dan kubu Non Determinisme yang menganggap bahwa pemimpin merupakan suatu proses (dapat dipelajari).
Berbagai penelitian tentang kepemimpinan telah melahirkan berbagai Pendekatan dalam studi kepemimpinan, seperti : pendekatan kesifatan, perilaku dan situasional.
- Pendekatan kesifatan, memandang kepemimpinan sebagai suatu kombinasi sifat-sifat (traits) yang tampak pada seseorang.
- Pendekatan perilaku, bermaksud mengidentifikasi perilaku-perilaku (behaviors) pribadi yang berhubungan dengan kepemimpinan efektif.
Kedua pendekatan ini (sifat dan perilaku) mempunyai anggapan bahwa seorng individu yang memiliki sifat-sifat tertentu atau memperagakan perilaku-perilaku tertentu akan muncul sebagai pemimpin dalam situasi kelompok apapun dimana dia berada.
- Pendekatan situasional, menganggap bahwa kondisi yang menentukan efektifitas kepemimpinan bervariasi dengan situasi-tugas-tugas yang dilakukan, keterampilan dan penghargaan bawahan, lingkungan organisasi, pengalaman masa lalu pemimpin dan bawahan. Pandangan situasional ini telah menimbulkan pendekatan contingency pada kepemimpinan, yang bermaksud untuk menetapkan faktor-faktor situasional yang menentukan seberapa besar efektifitas gaya kepemimpinan tertentu.
Pendekatan situasional ini muncul karena para peneliti mengenai gaya kepemimpinan tidak menemukan pendekatan yang paling efektif bagi semua situasi (Fielder, dengan teori contingency, Tannembaum dan Schmidt, dengan teori rangkaian kesatuan kepemimpinan
Pendekatan situasional ini muncul karena para peneliti mengenai gaya kepemimpinan tidak menemukan pendekatan yang paling efektif bagi semua situasi (Fielder, dengan teori contingency, Tannembaum dan Schmidt, dengan teori rangkaian kesatuan kepemimpinan
Contoh : Model Kepemimpinan Kontijensi
Seorang pemimpin yang mempunyai kepribadian yang baik dan bukan hanya karena kepribadian yang dimilikinya, tetapi juga karena berbagai faktor situasi dan saling hubungan antara pemimpin dengan bawahan,seperti pemimpin yang selalu mengawasi pekerjaan bawahan, Cara kerja mereka terstruktur dengan rapi atau keputusan akan selalu tepat apabila di tangan mereka.
Model Kepemimpinan Vroom & Yetton
Vroom & Yetton mengembangkan tujuh gaya (dari A sampai G) pembuatan keputusan manajemen dengan memberikan 13 alternatif saran mana yang cocok diterapkan dalam situasi yang berbeda. Artinya, dengan melihat situasi disarankan keputusan gaya yang cocok.
Berikut ini disajikan lima gaya pengambilan keputusan yang disarankan Vroom & Yetton lengka dengan tingkat partisipasi bawahannya.
-. Tetapkan keputusan sendiri dengan menggunakan informasi yang ada saat itu. Partisipasi bawahan tidak ada.
-. Dapatkan informasi dari bawahan dan selesaikan masalah oleh kita sendiri. Tidak perlu memberitahukan kepada bawahan apa yang menjadi masalah ketika meminta informasi kepada mereka, peran yang diharapkan dari bawahan hanya merupakan sumber informasi dan bukan mengemban alternative penyelesaian. Partisipasi bawahan rendah.
-. Ikut sertakan bawahan yang bersangkutan dengan masalah, minta ide dan sarannya secara sendiri-sendiri. Kemudian ambil keputusan, baik sendiri atau tidak disertai pengaruh dan saran-saran bawahan. Partisipasi bawahan sedang.
-. Ikut sertakan bawahan sebagai satu kelompok, dapatkan ide dan saran dari mereka. Kemudian ambil keputusan sendiri disertai pengaruh dan saran bawahan. Partisipasi bawahan tinggi.
-. Ikut sertakan bawahan sebagai suatu kelompok dalam memecahkan masalah. Bersama mereka kembangkan dan evaluasi alternatif. Usahakan mencapai consensus. Anda sebagai pemimpin berperan sebagai ketua. Tidak dibenarkan mempengaruhi kelompok dengan apa yang hendak anda putuskan dan anda bersedia untuk menerima dan melaksanakan setiap keputusan kelompok. Partisipasi bawahan sangat tinggi.
Contoh : Model Kepemimpinan Vroom-Yettom
Adalah contoh kepemimpinan yang mengikut sertakan bawahan sebagai satu kelompok dalam memecahkan masalah Anda sebagai pemimpin berperan sebagai ketua. Tidak dibenarkan mempengaruhi kelompok dengan apa yang hendak anda putuskan dan anda bersedia untuk menerima dan melaksanakan setiap keputusan kelompok. Partisipasi bawahan sangat tinggi.
MODEL KEPEMIMPINAN PATH GOAL
Teori path-goal adalah suatu model kontijensi kepemimpinan yang menyaring elemen-elemen dari penelitian Ohio State tentang kepemimpinan pada inisiating structure dan consideration serta teori pengharapan motivasi.
Dasar dari teori ini adalah bahwa merupakan tugas pemimpin untuk membantu anggotanya dalam mencapai tujuan mereka dan untuk memberi arah dan dukungan atau keduanya yang dibutuhkan untuk menjamin tujuan mereka sesuai dengan tujuan kelompok atau organisasi secara keseluruhan
Istilah path-goal ini datang dari keyakinan bahwa pemimpin yang efektif memperjelas jalur untuk membantu anggotanya dari awal sampai ke pencapaian tujuan mereka, dan menciptakan penelusuran disepanjang jalur yang lebih mudah dengan mengurangi hambatan dan pitfalls.
Model path-goal menjelaskan bagaimana seorang pimpinan dapat memudahkan bawahan melaksanakan tugas dengan menunjukkan bagaimana prestasi mereka dapat digunakan sebagai alat mencapai hasil yang mereka inginkan.
Model path-goal menganjurkan bahwa kepemimpinan terdiri dari dua fungsi dasar:
1. Fungsi Pertama; adalah memberi kejelasan alur. Maksudnya, seorang pemimpin harus mampu membantu bawahannya dalam memahami bagaimana cara kerja yang diperlukan di dalam menyelesaikan tugasnya.
2. Fungsi Kedua; adalah meningkatkan jumlah hasil (reward) bawahannya dengan memberi dukungan dan perhatian terhadap kebutuhan pribadi mereka
Dasar dari teori ini adalah bahwa merupakan tugas pemimpin untuk membantu anggotanya dalam mencapai tujuan mereka dan untuk memberi arah dan dukungan atau keduanya yang dibutuhkan untuk menjamin tujuan mereka sesuai dengan tujuan kelompok atau organisasi secara keseluruhan
Istilah path-goal ini datang dari keyakinan bahwa pemimpin yang efektif memperjelas jalur untuk membantu anggotanya dari awal sampai ke pencapaian tujuan mereka, dan menciptakan penelusuran disepanjang jalur yang lebih mudah dengan mengurangi hambatan dan pitfalls.
Model path-goal menjelaskan bagaimana seorang pimpinan dapat memudahkan bawahan melaksanakan tugas dengan menunjukkan bagaimana prestasi mereka dapat digunakan sebagai alat mencapai hasil yang mereka inginkan.
Model path-goal menganjurkan bahwa kepemimpinan terdiri dari dua fungsi dasar:
1. Fungsi Pertama; adalah memberi kejelasan alur. Maksudnya, seorang pemimpin harus mampu membantu bawahannya dalam memahami bagaimana cara kerja yang diperlukan di dalam menyelesaikan tugasnya.
2. Fungsi Kedua; adalah meningkatkan jumlah hasil (reward) bawahannya dengan memberi dukungan dan perhatian terhadap kebutuhan pribadi mereka
Contoh : Model Kepemimpinan Path-Goal
pimpinan dapat memudahkan bawahan melaksanakan tugas dengan menunjukkan bagaimana prestasi mereka dapat digunakan sebagai alat mencapai hasil yang mereka inginkan.
Kamis, 12 April 2012
Seorang pemimpin yang berhasil maupun gagal berdasarkan pendekatan perilaku dan ciri khas
kepemimpinan atau leadership merupakan ilmu terapan dari ilmu-ilmu social, sebab prinsip-prinsip dan rumusannya diharapkan dapat mendatangkan manfaat bagi kesejahteraan manusia (Moejiono, 2002). Ada banyak pengertian yang dikemukakan oleh para pakar menurut sudut pandang masing-masing, definisi-definisi tersebut menunjukkan adanya beberapa kesamaan.
Pengertian Kepemimpinan
Menurut Tead; Terry; Hoyt (dalam Kartono, 2003) Pengertian Kepemimpinan yaitu kegiatan atau seni mempengaruhi orang lain agar mau bekerjasama yang didasarkan pada kemampuan orang tersebut untuk membimbing orang lain dalam mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan kelompok.
Menurut Young (dalam Kartono, 2003) Pengertian Kepemimpinan yaitu bentuk dominasi yang didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu yang berdasarkan penerimaan oleh kelompoknya, dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi yang khusus
Keberhasilan Seorang Pemimpin Dalam Suatu Organisasi
(Vibizmanagement – Leadership) - Didalam setiap organisasi pastilah seorang pemimpin ingin organisasi yang dipimpinnya berhasil, dan berkembang. Kunci keberhasilan seorang pemimpin bukanlah ketrampilan manajemen dasar, tetapi leadership skill itu sendiri. Karena begitu banyak konsep yang keliru tentang orang – orang yang berhasil dimana bahwa mereka dapat mencapai apa yang mereka capai karena mereka tidak mempunyai masalah. Tetapi itu tidak benar sama sekali.
Dalam bukunya Holy sweat, Tim Hansel menceritakan kisah ini :
“ Pada tahun 192, Victor dan Mildred Goertzel menerbitkan suatu penelitian yang menyingkapkan rahasia dari 413 orang yang terkenal yang istimewa. Penelitian itu disebut “ Cradles of Eminence” Kedua peneliti ini menghabiskan waktu bertahun-tahun dengan berusaha memahami sumber dari kebebasan orang-orang ini, suatu cirri umum yang ada sepanjang kehidupan orang-orang yang luar biasa ini. Bahwa fakta yang paling luar biasa adalah hampir semua dari mereka, 392 orang harus mengatasi rintangan –rintangan yang sukar unutk menjadi siapa mereka hari ini. Masalah mereka menjadi kesemptan bukannya rintangan.
Beberapa hal yang harus diperhatikan didalam Memimpin sebuah organisasi :
Dibangun Dalam Kepercayaan/keyakinan
Tugas dasar seorang pemimpin adalah untuk memahami dan menangani situasi para karyawannya. Jadi, dengan memotivasi dan mendorong mereka untuk bekerja lebih keras, pemimpin berhasil menciptakan kepercayaan pada mereka untuk mencapai pekerjaan organisasi secara efektif dan efisien. Sering kali, kita melihat pemimpin hanya menyediakan dukungan psikologis kepada para karyawannya melalui perilaku mereka dan ekspresi dan gagal untuk mengenali kualitas dan kemampuan masing-masing bawahannya. Namun, pemimpin yang efektif diperlukan untuk mengidentifikasi kemampuan karyawan serta mendukung mereka dengan semua cara yang memungkinkan.
Produktivitas
Inti dari suatu organisasi adalah dengan memanfaatkan sumber daya manusia dan non-manusia yang tersedia untuk menghasilkan kinerja yang efisien dan efektif. Ini hanya dapat dicapai dengan mengalikan kemampuan dengan kemauan. Dalam hal ini peran seorang pemimpin adalah meningkatkan produktivitas karyawan dengan menaikkan kemauan untuk bekerja keras dan berkontribusi secara efisiensi.
Kepuasan Kerja
Menyediakan insentif dan kondisi kerja yang lebih baik meningkatkan kepuasan kerja karyawan. Namun, ini kepuasan kerja sangat tergantung pada perilaku pemimpin terhadap karyawan mereka. Seorang pemimpin yang bossy mungkin bisa mendapatkan hasil pekerjaan seperti yang diinginkan atas diri para karyawannya awal, tapi dengan berjalannya waktu, akan gagal untuk mendapatkan hasil yang diharapkan serta akan menghasilkan produktivitas rendah. Di sisi lain, seorang pemimpin dengan kepedulian serta pemahaman terhadap keadaan bawahannya mungkin akan menghadapi beberapa hambatan pada awalnya, tetapi dalam jangka panjang, dia akan jauh lebih sukses. Jadi, pemimpin harus memastikan bahwa mereka mengungkapkan perilaku yang dapat diterima oleh bawahan.
Kerja kelompok
Seorang pemimpin memastikan bahwa karyawan melaksanakan pekerjaan masing-masing dengan baik dan saling percaya untuk kemajuan organisasi. Dia mendorong mereka untuk bekerja dengan cara yang ramah dan dengan kerjasama satu sama lain, menekankan pada pencapaian tujuan perusahaan/organisasi. Seorang pemimpin yang efektif adalah seorang yang berhasil menempatkan kepentingan kelompok pada urutan pertama pertama kemudian baru prestasi pribadi. Setelah semua ini dilakukan secara efektif, tidak hanya keuntungan organisasi, tetapi karyawan mendapatkan keuntungan juga.
Kegiatan yang Terorganisir
Sering kali, lingkungan organisasi diisi dengan kekacauan dan bentrokan terutama karena tidak adanya seorang manajer atau pemimpin. Jadi, seorang pemimpin memastikan bahwa kegiatan organisasi didelegasikan secara merata dan adil antara karyawan, sehingga mengurangi kemungkinan konflik di antara mereka.
Semangat Karyawan
Kepemimpinan yang efektif sangat penting untuk mendapatkan semangat kerja karyawan yang tinggi. Seorang pemimpin yang baik memberikan hak untuk masing-masing kelompok di bawahnya dalam hal pemikiran dan sikap, sehingga mengembangkan hubungan manusia yang lebih baik. Selanjutnya, interaksi yang sangat baik yang difasilitasi antara anggota-anggota kelompok dengan menjaga disiplin dan kontrol pada bawahan.
Koordinasi
Seorang pemimpin melakukan peran mengintegrasikan tujuan individu dengan tujuan organisasi. Hal ini, pada gilirannya, mengikat kesamaan dari kedua kepentingan. Dengan menjaga informasi tentang kerja setiap karyawan, pemimpin menyimpan informasi yang diperlukan dari seluruh kelompok, untuk mengambil sebuah keputusan umum dalam rangka mengkoordinasi upaya secara keseluruhan.
Oleh sebab itu, seorang pemimpin yang sukses haruslah seorang yang kuat jasmani dan rohani. Karena hari-hari yang dilalui tidaklah mudah, akan banyak rintangan , masalah dan kritikan orang lain tapi satu hal yang harus kita sadari janganlah izinkan kritik orang lain mematahkan semangat anda untuk maju sebagai orang pemimpin.Jadi seorang pemimpin yang berhasil bukan hanya mereka yang dapat mengatasi rintangan, tetapi mereka yang terus menghadapi maslaah. Kabar buruknya adalah bahwa semakin tinggi seseorang naik secara pribadi dan professional semakin rumit masalah yang dihadapinya. Kabar baiknya adalah bahwa jika kita terus bertumbuh dan mengembangkan diri sendiri, maka kemampuan kita untuk menghadapi setiap masalah –masalah yang ada pun meningkat.
Sukses itu adalah pilihan dan ada ditangan Anda, jadi apapun yang terjadi didalam kehidupan kita sebagai pemimpin janganlah mudah menyerah, tapi maju terus dan terus kembangkan potensi yang ada dalam diri Anda.
Menjadi pemimpin yang hebat dengan cara yang baik
Setiap pemimpin hebat pasti karena ia telah menjadi yang terbaik dalam proses dan kepribadiannya. Proses ini selalu disesuaikan dengan perkembangan zaman yang selalu berubah, baik dalam pola pikir maupun sistem yang berlaku. Karenanya, untuk menebus kesuksesan dalam sebuah kepemimpinan, kita harus belajar tentang kecenderungan baru, strategi baru, dan pemahaman baru.
Jika ada seorang pemimpin yang bersikeras untuk menggunakan cara-cara yang lama untuk menyelesaikan permasalahan baru dalam organisasi atau perusahaan, tidak mau bersikap adaptif dan fleksibel, tentunya akan tergilas dan mengarahkan badan yang dipimpinnya ke arah penurunan produktivitas. Pengubahan pola-pola kepemimpinan sangat erat kaitannya dengan penyesuaian pasar dalam sebuah penciptaan gagasan, ide, kebijakan, dan produk yang dibuat.
Selain itu, kepribadian pemimpin juga memiliki peran yang sangat penting. Akhlak atau yang lebih dikenal sebagai perilaku dalam kepemimpinan merupakan penentu bagi seorang pemimpin, apakah dirinya bisa memimpin organisasi dengan baik atau tidak? Untuk menciptakan produktivitas optimal, seorang pemimpin terlebih dahulu harus bersedia menunjukkan akhlak atau perilaku yang mendukung produktivitas, untuk meniscayakan produktivitas optimal itu bisa terjadi.
Ciri Pemimpin yang Baik :
Ada beberapa ciri pemimpin yang baik, yang akan berhasil dalam kepemimpinannya.
Senantiasa bersikap adil dan menjunjung tinggi kebenaran. Begitu pentingnya masalah ini sampai-sampai Rasulullah menyatakan sejamnya keadilan pemimpin jauh lebih baik dibandingkan dengan seribu rakaat shalat sunnah (al-hadits). Pemimpin yang adil, disamping ilmunya para ulama, kepemurahannya kaum kaya, dan doanya kaum dhuafa akan menjadi pilar utama.
Senantiasa menjadi pengayom dan pembela masyarakat, sehingga masyarakat merasa aman dan terlindungi. Kehidupan menjadi tenteram dan bahagia. Kebijakan yang dikeluarkan pun tidak akan menjadi kebijakan yang merugikan rakyat. Ketika terjadi konflik antara kepentingan rakyat kecil, maka ia akan lebih memilih untuk membela kepentingan rakyat kecil.
Berpihak dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat. Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu adalah contoh pemimpin yang selalu berpatroli setiap malam, memastikan bahwa rakyatnya tidak ada yang kelaparan. Demikian pula dengan khalifah Umar bin Abdul Azis, yang mampu mengentaskan kemiskinan melalui instrumen zakat, hanya dalam waktu kurang dari 2 tahun. Inilah model kepemimpinan yang selalu didambakan kehadirannya oleh seluruh masyarakat kapan dan dimanapun, termasuk Negara yang kita cintai ini. Mudah-mudahan melalui pemimpin yang demikianlah, Indonesia akan menjadi bangsa yang lebih baik dan sejahtera.
Tipe-tipe Kepemimpinan :
1. Tipe Otokratik
Semua ilmuan yang berusaha memahami segi kepemimpinan otokratik mengatakan bahwa pemimpin yang tergolong otokratik dipandang sebagai karakteritik yang negatif. Dilihat dari persepsinya seorang pemimpin yang otokratik adalah seseorang yang sangat egois. Seorang pemimpin yang otoriter akan menujukan sikap yang menonjolkan “keakuannya”, antara lain dalam bentuk :
• kecenderungan memperlakukan para bawahannya sama dengan alat-alat lain dalam organisasi, seperti mesin, dan dengan demikian kurang menghargai harkat dan martabat mereka
• pengutmaan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas tanpa mengkaitkan pelaksanaan tugas itu dengan kepentingan dan kebutuhan para bawahannya.
• Pengabaian peranan para bawahan dalam proses pengambilan keputusan.
Gaya kepemimpinan yang dipergunakan pemimpin yang otokratik antara lain:
• menuntut ketaatan penuh dari para bawahannya
• dalam menegakkan disiplin menunjukkan keakuannya
2. Tipe Paternalistik
Tipe pemimpin paternalistik hanya terdapat di lingkungan masyarakat yang bersifat tradisional, umumnya dimasyarakat agraris. Salah satu ciri utama masuarakat tradisional ialah rasa hormat yang tinggi yang ditujukan oleh para anggiota masyarakat kepada orang tua atau seseorang yang dituakan.
3. Tipe Kharismatik
Tidak banyak hal yang dapat disimak dari literatur yang ada tentang kriteria kepemimpinan yang kharismatik. Memang ada karakteristiknya yang khas yaitu daya tariknya yang sangat memikat sehingga mampu memperoleh pengikut yang jumlahnya kadang-kadang sangat besar. Tegasnya seorang pemimpin yang kharismatik adalah seseorang yang dikagumi oleh banyak pengikut meskipun para pengikut tersebut tidak selalu dapat menjelaskan secara konkret mengapa orang tersebut dikagumi.
Ciri-ciri pemimpin berkarakter Sebagai berikut:
1. Jujur terhadap diri sendiri dan orang lain. Jujur dengan kekuatan diri dan kelemahan dan usaha untuk memperbaikinya.
2. Pemimipin harusnya berempati terhadap bawahannya secara tulus.
3. Memiliki rasa ingin tahu dan dapat didekati sehingga orang lain merasa aman dalam menyampaikan umpan balik dan gagasan-gagasan baru secara jujur, lugas dan penuh rasa hormat kepada pemimpinnya.
4. Bersikap transparan dan mampu menghormati pesaing dan belajar dari mereka dalam situasi kepemimpinan ataupun kondisi bisnis pada umumnya.
5. Memiliki kecerdasan, cermat dan tangguh sehingga mampu bekerja secara professional keilmuan dalam jabatannya.
6. Memiliki rasa kehormatan diri dan berdisiplin pribadi, sehingga mampu dan mempunyai rasa tanggungjawab pribadi atas perilaku pribadinya.
7. Memiliki kemampuan berkomunikasi, semangat " team work ", kreatif, percaya diri, inovatif dan mobilitas.
Menjadi pimpinan dalam suatu perusahaan bukanlah suatu perkara yang mudah. Seorang pemimpin harus memegang tugas besar akan tangung jawab kepada semua bawahannya. Banyak pemimpin besar di dunia ini yang bisa bertahan lebih dari 1 abad dalam kepemimpinannya, namun tidak sedikit pula pemimpin yang gagal dalam menjalankan tugas dan perannya sebagai pemimpin. Sidney Finklestein, seorang Profesor Manajemen Steve Roth di Tuck School Of Business di Darthmounth Colleage, Mempublikasikan dalam sebuah artikel '' Why Smart Executives Fail '' di dalam ( publikasi tersebut),beliau membagikan ilmu dari sebagian dari penelitiannya tentang mengapa 50 perusahaan besar seperti Enro, Tyco, Worldcom, Rubbermaid and Schwin menjadi sebuah kegagalan besar. Yang hasilnya menyatakan bahwa didalam perusahaan para senior eksekutif memiliki 7 kebiasaan yang sama. Finkelstein menyebutnya 7 Kebiasan dari pemimpin yang gagal. Salah satunya adalah perusahaan yang terlalu mendominasi.
Perusahaan yang terlalu Mendominasi
Kebiasaan terburuk pertama yang mengakibatkan seorang pemimpin gagal adalah sebuah perusahaan yang mendominasi lingkungan bisnisnya yang mengatur arah pasar bisnis antara para Pemimpin/ Eksekutif dengan perusahaan- perusahan lain. Dalam teorinya sebuah perusahaan memang seharusnya mendominasi perusahaan namun ada hal- hal yang harus diperhatikan, salah satunya dalam membentuk gambaran dan karakter perusahaan. Tidak seperti pemimpin yang --sukses dan berhasil, pemimpin yang gagal kurang peka terhadap kesalahan yang dibuat, dalam arti seluasnya para pemimpin yang gagal kurang memahami letak kesalahan dan tidak berusaha untuk memperbaikinya. Yang terkadang tidak menyadari bahwa mereka sedang diberikan kesempatan untuk memperbaikinya.
Hal kedua kebiasaan buruk yang membuat para pemimpin gagal adalah Mereka (pemimpin) yang sangat berlebihan dalam berfikir tentang kemampuan mereka yang dapat mengontrol keadaaan dan merendahkan peran perubahan keadaan lingkungan dalam kesuksesan mereka. CEO yang termangsa oleh kepercayaan ini, tersiksa dalam ilusi tentang keunggulan pribadi mereka.
Seperti seorang sutradara film, tentu melihat dirinya sebagai pencipta perusahaan mereka. Menurut pendapatnya, semua orang yang ada diperusahaan hanya berperan sebagai eksekutor atau implementor visi mereka terhadap perusahaan. Sebagaimana mereka menyadari, setiap orang dalam perusahaan tersebut berada disana untuk melakukan kepentingan personal bagi perusahaan mereka. Seorang CEO Samsung, Kun Hee Lee, yang sukses dan berhasil dalam bidang elektronik, berfikir bahwa kesuksesan yang diraihnya mampu dia ulangi dalam bidang automobile. Beliau menginvestasikan dana sebesar 5 Billion US Dollar di dalam pasar auto yang sudah tidak berjalan secara baik Mengapa ? Tidak ada alasan bisnis. Lee hanya menyukai mobil dan bermimpi untuk berada di industri ini.
Langganan:
Postingan (Atom)